Shalat Kado Isra’ Mikraj

0
145

Oleh: Johari, SH. M.Si Notaris dan PPAT Batam putra Asal Jemaja ,Anambas, eks Ketua PENGWIL IPPAT RIAU 2015-2018 & KORWIL Sumatra PP IPPAT 2015-2018 | Opini.

Innashalaa Tatanha ‘anil Fahsya Iwal Munkar (shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar/ Al ‘Ankabut ayat 45). Dan shalat ini pulalah sebagai kado istimewa yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW yang khusus diperuntukkan kepada umatnya.

Kenapa Istimewa dan Untuk Apa?

Selain sebagai tiang agama Islam, shalat juga sebagai treatment pencegah perbuatan keji dan mungkar. Shalat juga jadi semacam “wild card” ibadah yang diperiksa lebih dahulu pada proses pengadilan independen, netral, tidak bisa disogok, main mata dan objektif serta keputusannya final and binding (tidak bisa banding) terhadap pertanggungjawaban kita sebagai manusia selama hidup di dunia fana yang penuh fantasi.

Shalat bisa jadi sebagai pintu masuk perjalanan menuju Jannah.

Pada ritual shalat itu terdapat pula beberapa terapi, diantaranya:

Hidro Terapi_ Yakni terapi air wudhu yang menyejukkan hati dan menyegarkan kepala ketika sedang panas oleh kesibukan aktifitas Hablum minannas.

Aroma Terapi_ Yakni ketika akan shalat amat dianjurkan memakai wewangian dan pakaian bagus agar stylist dan modis ketika hendak curhat, berkomunikasi dan menghadap sang khalik.

Irama Terapi_ Yakni lantunan Kalam Ilahi oleh Muazin dan imam ketika sebelum dan sedang shalat, tentu akan memberikan kesyahduan senandung yang indah dan ketenangan hati yang sedang gundah gulana oleh kecemasan persoalan dunia ketika wabah omicron melanda dan lain lain.

Apakah Shalat hanya dimaksudkan untuk akhirat semata?

Tentu saja tidak. Sebagai mana narasi awal diatas, shalat itu justru multifungsi, sangat mujarab untuk kehidupan didunia (pencegah perbuatan keji & mungkar) maupun akhirat (amal yang diperiksa pertama kali). Bukankah dunia adalah jembatan menuju akhirat?

Apa pertanda orang yang sesungguhnya melakukan ibadah Shalat secara baik dan benar?

Bukan shalat pencitraan agar dianggap religius, apa lagi ketika waktu tertentu. Kebanyakan kita, termasuk juga mungkin saya, terkadang masih melakukan shalat itu sebagai rutinitas belaka. Masih terindikasi “hubbud dunia” (cinta dunia). Belum sepenuhnya shalat.

Bagaimana cara kita mengetahui dan mengenali tipikal orang yang benar2 Shalat?

Berikut Beberapa Indikatornya

Jika eksekutif (birokrat), pertanda shalat maka ia akan melaksanakan amanah, pekerjaan, tugas dan tanggung jawab sebagai Umara’ dengan total komitmen melayani (bukan minta dilayani) rakyatnya secara baik, hidup sederhana, jujur, disiplin, tidak korup dalam bentuk apapun. Teladan Umar bin Khattab selalu ronda malam keliling kota Mekah untuk memastikan rakyatnya tidur dalam keadaan kenyang.

Jika legislatif (politisi), maka ia akan menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakilinya secara vokal dan gigih demi tertunaikan segala janji ketika pileg (rakyat sejahtera), karena ia sadar sebagai wakil rakyat, maka rakyat lah atasannya (sedang ia cuma wakil). Sudah barang tentu sang wakil rakyat itu akan mengutamakan nasib atasannya (rakyat) daripada dirinya sendiri.

Jika sebagai yudikatif (penegak hukum), maka ia akan berusaha dan teguh berlaku adil tanpa pandang bulu dalam menegakkan hukum (bukan karena sesuatu), karena segala keputusannya akan direview kembali pada pengadaan Yaumil Mahsyar kelak. Pada pengadilan dunia hakim pembuat keputusan salah tidak dapat dituntut, namun di akhirat semua pihak diadili tiada kecuali. Alaishallahu bi’ahkamil haakimin.

Jika profesi, maka ia menjalankan pekerjaannya dengan menjunjung etika moral (moral clarity), menjaga Marwah dan martabat jabatan dengan benar. Tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pekerjaan atau jabatan, mengutamakan persaingan sehat dan elegan, menjaga kode etik organisasi dengan teguh. Slogannya TIDAK ADA CARA YANG BENAR UNTUK MELAKUKAN KESALAHAN.

Sungguh begitu besar manfaat shalat itu, jika dilaksanakan dengan sepenuh hati. Maka hati-hatilah dalam melakukan ritual Shalat agar tidak sia-sia. Jika masih terdapat kemungkaran (hal buruk atau negatif), maka patut diduga yang bersangkutan belum benar-benar Shalat. Maka marilah kita dirikan Shalat sebelum dishalatkan.

Selamat memperingati ISRA’ MIKRAJ & SHALAT LAH TEPAT WAKTU. Wassalam. Batam, 28/02/2022

#Opini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here